2008
Saat aku menulis posting ini, tahun 2008 akan berakhir dalam hitungan jam. Tadinya aku hampir terlelap sehabis menemani Nibras tidur, tiba-tiba aku tersadar saat menyadari bahwa tahun 2008 akan segera berakhir. Selanjutnya satu persatu peristiwa, kejadian, orang-orang melintas di kepalaku seperti sebuah film panjang yang diputar dan disaksikan kembali.
Buat aku, tahun 2008 benar-benar tahun luar biasa dan tak akan pernah aku lupakan seumur hidup. Tahun yang penuh dengan gejolak, gelombang, air mata, tertawa, kesedihan, kedukaan, kegembiraan, kebahagiaan, kemarahan, naik-turun, dan semua dua sisi perasaan, positif dan negatif. Semua jadi satu.
Hanya satu keyakinan yang membuat aku mampu berdiri dan bertahan sampai sekarang, yaitu bahwa Tuhanlah yang mengatur semua ini. Aku percaya bahwa Tuhan yang mengetahui “porsi” dan “kemampuan” aku sehingga Dia-lah yang merancang, merencanakan, dan membuat yang tak mungkin menjadi mungkin, membuat yang tak pasti menjadi pasti, yang berujung pada kenyataan bahwa Tuhanlah yang mengetahui apa yang terbaik buat aku.
2008 diawali dengan kenyataan bahwa aku tidak bekerja lagi, satu hari setelah keputusan berhenti kerja, aku menjalani operasi tumor payudara, selanjutnya aku dan keluarga dan orang tua menunaikan ibadah umrah, terakhir aku menyunatkan Ammar. Alhamdulilah semuanya berjalan lancar tanpa hambatan berarti.
Diantara peristiwa-penting itu, aku mendapatkan pengalaman dengan begitu banyak orang, ada yang terang-terangan menzalimi aku, ada yang mengecewakan aku, tapi ada juga yang membahagiakan aku. Aku kehilangan beberapa teman, tapi sebagai gantinya aku bertemu orang-orang baru dan mendapat teman-teman baru. Surprisingly, aku bertemu kembali dengan teman-teman lama (teman masa SD dan kuliah). Aku menjalin kembali hubungan pertemanan dengan beberapa orang yang sempat putus karena kesalahpahaman. Semua orang-orang ini memberi aku pengalaman hebat dan luar biasa, dan jujur aku tak akan pernah bisa melupakan dan berterima kasih kepada mereka yang telah memberikan wonderful moments Dan jujur pula, aku masih berusaha untuk melupakan mereka yang menyakiti dan menzalimi aku karena aku sudah memasukkan mereka ke dalam “peti sumber ketidakbahagiaan”, aku bisa men‘delete’ mereka dari ‘memory bank’ aku selamanya.
Yang membuat surprise aku mendapat penghasilan kembali setelah 7 bulan berhenti kerja, dan bisa dibilang itu adalah penghasilan aku yang paling kecil yang pernah aku terima selama aku bekerja selama ini, tapi rezeki itu patut disyukuri. Tak berapa lama kemudian, aku mendapat penghasilan luar biasa dari hasil “kerja keras” selama 2 minggu saja. Sekali lagi, rezeki inipun patut disyukuri.
Selanjutnya aku bisa menekuni kembali hobi jaman kecilku dulu, yaitu menari jawa klasik. Hebatnya aku merasa kenikmatan luar biasa melakukan aktivitas yang dulu berupa “kewajiban” dari ibu dan bapak, tapi sekarang aku merasakan hal yang berbeda. Aku bisa menekuni hobiku yang lain seperti membaca, memasak, menulis. Aku bisa mengikuti kursus yang dulu hanya sekedar “wacana”. Aku pun bisa sedikit banyak terlibat kegiatan di sekolah anak-anak, kegiatan yang dulu tak mungkin aku lakukan karena kesibukan pekerjaan.
Di tahun 2008 aku melakukan banyak hal yang aku benar-benar ingin lakukan, bukan hal-hal yang orang lain ingin aku lakukan. Dan aku mendapat kepuasan dari situ.
Memang aku akui aku tetap “Tari” yang lama dan sama, yang gampang sedih tapi bisa juga gampang merasa senang dan gembira dengan hal-hal kecil dan sederhana, yang bisa menye-menye tapi bisa juga ketus kalau dibutuhkan. But, that’s me. Aku cuma bisa bersyukur atas apa yang terjadi, aku hanya menjalani apa yang sudah digariskan oleh-Nya.
Aku tak punya rencana muluk-muluk di tahun 2009, tak ada resolusi pula. Sekali lagi aku percaya, “porsi” aku sudah ditentukan oleh-Nya. Tuhan yang menentukan segalanya, sebagai manusia aku hanya bisa berusaha sebaik mungkin, berdoa semoga mendapat perlindungan sehingga bisa menjalankan dan mengisi “porsi”ku dengan sebaik-baiknya.
kehidupan, refleksi | Comment (0)Through The Years
For someone who has been with me for twelve years and more years to come:
I can’t remember when you weren’t there
When I didn’t care for anyone but you
I swear we’ve been through everything there is
Can’t imagine anything we’ve missed
Can’t imagine anything the two of us can’t do
Through the years, you’ve never let me down
You turned my life around, the sweetest days I’ve found
I’ve found with you … through the years
I’ve never been afraid, I’ve loved the life we’ve made
And I’m so glad I’ve stayed, right here with you
Through the years
I can’t remember what I used to do
Who I trusted whom, I listened to before
I swear you’ve taught me everything I know
Can’t imagine needing someone so
But through the years it seems to me
I need you more and more
Through the years, through all the good and bad
I knew how much we had, I’ve always been so glad
To be with you … through the years
It’s better everyday, you’ve kissed my tears away
As long as it’s okay, I’ll stay with you
Through the years
Through the years, when everything went wrong
Together we were strong, I know that I belonged
Right here with you … through the years
I never had a doubt, we’d always work things out
I’ve learned what loves about, by loving you
Through the years
Through the years, you’ve never let me down
You’ve turned my life around, the sweetest days I’ve found
I’ve found with you … through the years
It’s better everyday, you’ve kissed my tears away
As long as it’s okay, I’ll stay with you
Through the years!
Penilaian seorang teman
Di bawah ini penilaian seorang teman terhadap diri aku:
“kamu cantik, baik, kamu orangnya gampang perasaan, sukar memaafkan, penyabar, menghindar konflik, mengalah, sayang keluarga ’suka pasang foto keluarga terutama anak’, teman sedikit tapi punya beberapa teman setia, suka merenung, sukanya di belakang layar, lebih suka bertanya daripada diskusi, senang menulis daripada bicara, prosedural, perfeksionis, setia, pendengar yang baik, cuek terhadap orang lain, teliti terhadap pekerjaan, hidupnya terjadwal dan terpola, suka lingkungan monoton dan nyaman bila merasa aman, kalau stres menghindar dari masalah, cerewet, suka komplain, terlalu berlebihan dengan kesempurnaan dan ketelitian, gampang menangis, orang lain kalau bicara dengan kamu harus berdasarkan data dan fakta, kalau dinasehatin harus disertai contoh dan fakta kasus, bukan ‘katanya’….”
Aku bisa bilang kebanyakan yang dia bilang itu benar belaka..! Hebat euy, dalam satu jam dia bisa menilai aku begitu lengkap dan komprehensifnya hanya dengan mengamati ekspresi dan gesture aku saat bicara dengan dia…….:-) Bahkan aku sendiri gak bisa menilai diri aku selengkap ini. Dan aku masih terkagum-kagum sampai sekarang….
*…thanks anyway buat kamu yang sudah berbaik hati dan bersusah payah menyisihkan waktu untuk semua ini. I appreciate it..*
introspeksi, kamu, persahabatan, refleksi | Comments (2)Keputusan ini
Aku tau pasti ada nggak suka atas apa yang aku lakukan sekarang ini, seperti aku juga yang nggak suka atas apa yang dia lakukan terhadapku. Aku mengambil keputusan ini karena kejadian ini sudah berulang kali, dan aku cukup sabar untuk menghadapi semuanya. Mungkin ego yang bicara kali ini, tapi mau apa lagi.
Aku tau aku tak akan pernah bisa beranjak lebih dari tempat aku berdiri sekarang, aku pun juga tak mau pergi dari tempat ini, karena tempat ini tempat yang sangat jelas, terang, dan berujung pasti. Walaupun aku pernah berpikir yang lain, tapi pada akhirnya semua kembali kemana aku harus berada.
Sebenernya aku nggak minta apa-apa, sama sekali enggak. Aku hanya ingin diperlakukan lebih ‘descent’. You know what I mean? Diperlakukan gimana seharusnya diperlakukan, yang normalnya hubungan antar manusia, norma dan adab yang biasa dilakukan antar manusia, antar temen, antar sahabat.
Dulu aku marah, sedih, marah lagi, sedih lagi, sampai menangis, dan mengambil keputusan untuk menerima keadaan. Tapi saat ada keinginan untuk memulai lagi dengan harapan baru, aku melihat sebagai hal positif yang harus dihormati dan dihargai. Tapi saat kejadian berulang kembali kali ini, yang ada hanya kecewa, marah masih ada, tapi sedikit, but keep wondering, kog tega banget sih ama aku. Aku nggak pernah melakukan hal menyakitkan, nggak pernah melukai, berusaha nggak mengecewakan. Cuma itu pertanyaanku, kog tega banget. Aku merasa tak perlu mendengarkan penjelasan lagi, karena isinya hanya pengulangan cerita selama dua tahun berjalan. Hanya dia dan Tuhan yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Keputusan ini mungkin menimbulkan kemarahan, tapi apa boleh buat. Aku berbuat ini karena ada yang memicunya lebih dulu, bukan karena aku yang mendahului menyakiti orang. Selain keputusan yang aku ambil sekarang ini demi kebaikan aku sendiri karena aku ingin tetap sehat dan bahagia.
Satu bulan hampir berlalu, kemarahan dan kekecewaan sudah nggak ada di hatiku. Aku nggak mau menyimpan racun itu di hati, aku membiarkannya pergi menjauh, menguap bersama waktu yang berjalan. Aku memaafkan, tapi tak akan melupakan. Tapi aku belum siap untuk memulai lagi, atau bahkan aku tak akan pernah mau mengulanginya lagi. Karena aku nggak mau tersakiti lagi atau malah mungkin aku bisa menyakiti orang lain.
Sekarang aku bisa bilang, ‘it’s never gonna work’. Perlu waktu dua tahun akhirnya untuk menyadari hal ini. Dan aku pikir, semua ini yang terbaik buat aku. Mungkin terbaik juga buat dia.
Uncategorized, introspeksi, kamu, kehidupan, refleksi | Comment (0)
Sabar, Jangan Sedih, Jangan Menangis
sabar
jangan sedih
jangan menangis
sabar
jangan sedih
jangan menangis
sabar
jangan sedih
jangan menangis
sabar
jangan sedih
jangan menangis
justifikasi ketidakpercayaan itu?
waktu berjalan, tidak sabar menunggu esok…
lagi sebel, lagi sedih, unreal life | Comment (0)Kepercayaan dan Ketidakpercayaan
Aaahh…aku baru menyadari sekarang. Berbulan-bulan aku berpikir tentang sesuatu yang rasanya mengganjal tak enak. Begitu lama aku mencari apa penyebab ketidaknyamanan ini dan aku baru bisa menemukan dan mendefinisikannya sekarang. Perlu waktu untuk sampai ke kesimpulan bahwa ganjalan tak enak dan tak nyaman itu adalah: kehilangan kepercayaan. Ya, aku kehilangan kepercayaan atas sesuatu, seseorang, keadaan, dan hubungan. Memang kepercayaan itu tidak hilang seluruhnya, masih tersisa sebagian, dan sebagian lainnya itulah yang disebut ketidakpercayaan. Seperti dua sisi dalam satu koin.
Memang tak sedrastis gelas pecah yang tak mungkin dibentuk lagi, hanya aku merasa seperti satu buah kepingan puzzle yang hilang sehingga menyebabkan sebuah gambar berbentuk tetapi tak sempurna karena ada ruang yang kosong dan bolong. Atau seperti kertas yang sobek, masih terlihat tepian bekas sobekannya walaupun sudah direkat dengan lem atau perekat plastik. Berbentuk tapi tak utuh lagi.
introspeksi, kehidupan | Comment (0)Il-Feel
Kamu kog bersungut-sungut begitu ? Aku lagi Il-Feel, lagi sebel.
Lho emang kenapa? Karena aku lagi kehilangan rasa, minat, dan kepercayaan.
Emang kenapa sih? Sebenernya sih bukan apa-apa. Aku cuma mengharapkan tiga buah kata disampaikan seseorang buat aku. Hal simple. Sederhana.
Terus? Aku merasa bodoh sekali karena selalu menggantung harapan “setinggi langit” dan “seluas samudra”. Akhirnya seperti menggantang asap, melakukan pekerjaan sia-sia. Menyedihkan.
Sabar…kenapa nggak coba menghubungi yang bersangkutan? Wah…enggak deh, udah cukup.
Trus, kog masih manyun begitu? Aku jadi benci diri sendiri.
Lho kog gitu? Iya, karena aku nggak pernah bisa bilang TIDAK dengan dia.
lagi sebel, remah remah, unreal life | Comment (0)Ulang tahun ke-40
Hari ini aku ulang tahun yang ke-40. Nggak terasa waktu berjalan cepat sekali. Satu tahun berlalu seperti angin, rasanya baru kemarin aku menulis tentang ulang tahun ke-39 di blog ini, dan sekarang aku menulis tentang ulang tahunku yang ke-40.
Bagaimana rasanya jadi wanita berumur 40 tahun? Hmmm… agak-agak surprise sebenarnya. Rasanya seperti mimpi, rasanya baru kemarin aku duduk di kursi kayu kecil di TK Teruna Ria, rasanya belum lama aku menjadi si gadis gendut berkuncir dua duduk di bangku SD, dan selanjutnya berseragam putih biru dan putih abu-abu di SMP dan SMA dengan rambut panjang dikepang sampai ke pinggang dan muka berjerawat kecil-kecil serta bertingkah laku serba canggung dan kagok.
kebahagiaan, kehidupan, refleksi, ulang tahun | Comment (1)Masa lalu, Masa Datang, dan Sekarang
aku tak ingin berpikir lagi tentang masa lalu
yang membuatku terikat dan tak beranjak
terjebak dalam kisah tak terlupakan
yang seharusnya memang ditinggalkan
aku tak mau berharap tentang masa datang
bermimpi tentang menuai harapan dan impian
atau angan-angan tak masuk akal
bertanya bisakah menjadi kenyataan
aku hanya ingin bicara tentang sekarang
sesuatu yang nyata-nyata terang
tanpa harus mengartikan apa-apa
kecuali menikmati setiap denyutan napasnya
Demi teman tercinta
Kalau bukan demi pernikahan teman tercinta, gak mungkin aku merelakan tiga jam pulang-pergi dari waktuku untuk terjepit di tengah macet di timurnya Jakarta ditambah hujan sore yang mulai turun di akhir bulan ini.
Kalau bukan demi pernikahan teman tercinta, gak mungkin aku gelisah berhari-hari memikirkan apa yang harus aku lakukan dan katakan nanti di saat aku harus bertemu orang-orang dari jaman dulu.
Kalau bukan demi pernikahan teman tercinta, gak mungkin aku harus menyisihkan perasaan ‘hilang selera’ dan ‘mati rasa’ yang aku mulai rasakan sejak menerima e-mail undangan pernikahan itu.
lagi sebel, lagi sedih, persahabatan | Comment (0)